Toak Tuban dan Budaya Mendem
Untuk mendapatkan toak tuban para petani atau pemilik bogor harus menampung getah nira sehari semalam. Misal pagi menadah nira besok siang sampai sore baru bisa di ambil dan di panaen toaknya. Disini ada perbedaan antara toak tuban dan legen. Kalau toak sudah jelas memabukkan jika kebanyakan minum, kalau legen rasanya manis dan tidak memabukkan. Celakanya legen ini hanya bertahan 6-7 jam kemudian menjadi toak. Rasa legen itu sendiri manis campur trecep-trecep, wes pokok e enak lah.
![]() |
| wit bogor |
Langganan legen tuban yang sering saya kunjungi berada di desa pancuran kecamatan grabagan cukup dengan sms maka pesanan siap dalam kemasan jurigen 5 liter. Saya biasa menikmati legen dengan adik saya, ibu saya hanya mencicipi sedikit karena takut mendem atau mabuk. Apalagi kalau bulan puasa berbuka puasa dengan yang manis-manis seperti legen tuban. Sudah 10 tahun saya tidak berbuka puasa dengan legen tuban, besok boleh saya coba deh asal jangan toaknya. hehehe
Toak Tuban dan Budaya Mendem
Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat tuban yang bekerja di sektor informal seperti nelayan, pedagang, tukang becak dsb mereka sering minum toak tuban dan mendem. Tiap sore menjelang maghrib sampai jam 10 malam rutinitas minum toak dan mendem mereka lakukan tiap hari. Katanya sih untuk menghilangkan beban kehidupan sejenak. Tempat mendemnya pun sangat terbuka, di trotoar sudut kota, trotoar sleko dekat lapangan SMEA, di trotoar tembok bujat pokoknya mendem atau mabuk di tuban itu bebas asal jangan bikin resek. Aparat polisi tidak berani menindak karena memang ini menjadi tradisi turun temurun. Sisi baiknya mereka tidak menggangu dan memalak orang yang sedang jalan di sampingnya tidak berani sama sekali. Di warung-warung toak juga banyak yang menyediakan minta berapa liter pun bisa diladeni. Yang saya tau toak lumayan enak itu di warung gayeng desa Ngareng Plumpang. Yang lebih enak lagi nunggu di bawah pohon siwalan atau wit bogor dari sang pemilik toak. Sebenarnya minum toak dengan budaya mendemnya itu menjadi paradoks ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa tuban itu tempat penyebaran agama islam jaman waliyullah. Konon katanya tuban menjadi kota jujukan para saudagar dari gujarat untuk berdagang dan menyebarkan agama islam. Umur kota tuban sendiri sudah 715 tahun lebih hampir sama dengan kota surabaya yang menjadi jujukan para pedagang islam. Bupati tuban sendiri pernah menerapkan kebijakan populer dengan mengurangi jumlah orang mendem ini dengan membeli dengan uang pribadi semua toak yang ada di tuban dan dibuang. Dengan demikian toak menjadi sangat langka, saya salut dengan kebijakan ini.
| Bakul Toak |
Akirnya semua kembali pada pribadi masing-masing mau mendem atau tidak asal jangan menggangu hak orang lain. Tidak kurang cara untuk menyadarkan orang mendem tradisionalis menuju jalan yang benar. Mungkin penyakit hepatitis lah yang akan menyadarkan mereka. Demikian tulisan toak tuban dan budaya mendem, semoga kita di jauhkan dari perbuatan mendem ini. Lebih baik berkonsultasi pada yang maha Pencipta, Allah subahanahu wata'alaa.
sumber:http://agussetya.blogspot.com/2013/07/toak-tuban-dan-budaya-mendem.html


Tidak ada komentar:
Posting Komentar